Tuesday, January 5, 2010

tambah dan campur


Sisa-sisa masa makan tengahari masih lagi ada. Saya mengambil ruang untuk menambah entry untuk tahun baru.

Sungguh cepat masa berlalu. Sungguh pantas waktu berlari. Sungguh-sungguh benar detik-detik ini meninggalkan kita.

Jangkauan tahun masehi ini juga menjangkau jugalah usia kita semua, begitu juga lah saya.

Banyak perkara yang perlu dilaksanakan dalam tahun ini. Moga kesempatan yang terhad dan terbatas memberi ruang kepada saya melaksanakan sebaik mungkin.

Beberapa ucapan;

Kepada Kak Ma, selamat menjadi bunda tidak lama lagi, anakmu tidak sabar melihat dunia.
Kepada Mrs. MarVeL, juga selamat meniti hari-hari gembira untuk menjadi ibu kepada anak kembar tidak lama lagi.
Kepada Keb, semoga apa yang dihajati untuk 2010 terlaksana.
Kepada warga KLIFF 2010, selamat bergerak kerja. Patah tumbuh hilang berganti. Patah gigi ganti gigi palsu ok.
Kepada tuan punya So'od, sesungguhnya kesabaran dan berlapang dada itulah penawar segalanya. Daku tumpang gembira.
Kepada sapa-sapa yang mahu menikah ini tahun selamat pengantin baru dan selamat menimang cahaya mata sebanyak mungkin ok.

Buat Semua;

"Hadapilah dengan senyuman, apa yang terjadi biarkan terjadi. Teruskan berjuang hingga ke titisan darah yang terakhir. Hidup ini perlukan perjuangan...Perjuangan perlukan pengorbanan...Pengorbanan perlukan kesabaran...."

*refresh mind
L3-23

Thursday, December 31, 2009

Amir Di Era Keemasan Islam


Era keemasan Islam (The Golden Ages of Islam) tertoreh pada masa ke pemimpinannya. Perhatiannya yang begitu besar terhadap kesejahteraan rakyat serta kesuksesannya mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, tekonologi, ekonomi, perdagangan, politik, wilayah kekuasaan, serta peradaban Islam telah membuat Dinasti Abbasiyah menjadi salah satu negara adikuasa dunia di abad ke-8 M.

Amir para khalifah Abbasiyah itu bernama Harun Ar-Rasyid. Dia adalah raja agung pada zamannya. Konon, kehebatannya hanya dapat dibandingkan dengan Karel Agung (742 M - 814 M) di Eropa. Pada masa kekuasaannya, Baghdad ibu kota Abbasiyah - menjelma menjadi metropolitan dunia. Jasanya dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban hingga abad ke-21 masih dirasakan dan dinikmati masyarakat dunia.

Figur Harun Ar-Rasyid yang legendaris ini terlahir pada 17 Maret 763 M di Rayy, Teheran, Iran. Dia adalah putera dari Khalifah Al-Mahdi bin Abu Ja’far Al-Mansur khalifah Abbasiyah ketiga. Ibunya bernama Khaizuran seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan dan dinikahi Al-Mahdi. Sang ibu sangat berpengaruh dan berperan besar dalam kepemimpinan Al-Mahdi dan Harun Ar-Rasyid.

Sejak belia, Harun Ar-Rasyid ditempa dengan pendidikan agama Islam dan pemerintahan di lingkungan istana. Salah satu gurunya yang paling populer adalah Yahya bin Khalid. Berbekal pendidikan yang memadai, Harun pun tumbuh menjadi seorang terpelajar. Harun Ar-Rasyid memang dikenal sebagai pria yang berotak encer, berkepribadian kuat, dan fasih dalam berbicara.

Ketika tumbuh menjadi seorang remaja, Harun Ar-Rasyid sudah mulai diterjunkan ayahnya dalam urusan pemerintahan. Kepemimpinan Harun ditempa sang ayah ketika dipercaya memimpin ekspedisi militer untuk menaklukk Bizantium sebanyak dua kali. Ekspedisi militer pertama dipimpinnya pada 779 M - 780 M. Dalam ekspedisi kedua yang dilakukan pada 781-782 M, Harun memimpin pasukannya hingga ke pantai Bosporus. Dalam usia yang relatif muda, Harun Ar-Rasyid yang dikenal berwibawa sudah mampu menggerakkan 95 ribu pasukan beserta para pejabat tinggi dan jenderal veteran. Dari mereka pula, Harun banyak belajar tentang strategi pertempuran.

Sebelum dinobatkan sebagai khalifah, Harun didaulat ayahnya menjadi gubernur di As-Siafah tahun 779 M dan di Maghrib pada 780 M. Dua tahun setelah menjadi gubernur, sang ayah mengukuhkannya sebagai putera mahkota untuk menjadi khalifah setelah saudaranya, Al-Hadi. Pada 14 Septempber 786 M, Harun Ar-Rasyid akhirnya menduduki tahta tertinggi di Dinasti Abbasiyah sebagai khalifah kelima.

Harun Ar-Rasyid berkuasa selama 23 tahun (786 M - 809 M). Selama dua dasawarsa itu, Harun Al-Rasyid mampu membawa dinasti yang dipimpinnya ke peuncak kejayaan. Ada banyak hal yang patut ditiru para pemimpin Islam di abad ke-21 ini dari sosok raja besar Muslim ini. Sebagai pemimpin, dia menjalin hubungan yang harmonis dengan para ulama, ahli hukum, penulis, qari, dan seniman.

Ia kerap mengundang para tokoh informal dan profesional itu keistana untuk mendiskusikan berbagai masalah. Harun Ar-Rasyid begitu menghagai setiap orang. Itulah salah satu yang membuat masyarakat dari berbagai golongan dan status amat menghormati, mengagumi, dan mencintainya. Harun Ar-Rasyid adalah pemimpin yang mengakar dan dekat dengan rakyatnya. Sebagai seorang pemimpin dan Muslim yang taat, Harun Ar-Rasyid sangat rajin beribadah. Konon, dia terbiasa menjalankan shalat sunat hingga seratus rakaat setiap harinya. Dua kali dalam setahun, khalifah kerap menunaikan ibadah haji dan umrah dengan berjalan kaki dari Baghdad ke Makkah. Ia tak pernah lupa mengajak para ulama ketika menunaikan rukun Islam kelima.

Jika sang khalifah tak berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji, maka dihajikannya sebanyak tiga ratus orang di Baghdad dengan biaya penuh dari istana. Masyarakat Baghdad merasakan dan menikmati suasana aman dan damai di masa pemerintahannya. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Harus Ar-Rasyid tak mengenal kompromi dengan korupsi yang merugikan rakyat. Sekalipun yang berlaku korup itu adalah orang yang dekat dan banyak berpengaruh dalam hidupnya. Tanpa ragu-ragu Harun Ar- Rasyid memecat dan memenjarakan Yahya bin Khalid yang diangkatnya sebagai perdana menteri (wazir).

Harun pun menyita dan mengembalikan harta Yahya senilai 30,87 juta dinar hasil korupsi ke kas negara. Dengan begitu, pemerintahan yang dipimpinnya bisa terbebas dari korupsi yang bisa menyengsarakan rakyatnya. Pemerintahan yang bersih dari korupsi menjadi komitmennya. Konon, Harun Ar-Rasyid adalah khalifah yang berprawakan tinggi, bekulit putih, dan tampan. Di masa kepemimpinannya, Abbasiyah menguasai wilayah kekuasaan yang terbentang luas dari daerah-daerah di Laut Tengah di sebelah Barat hingga ke India di sebelah Timur. Meski begitu, tak mudah bagi Harun Ar-Rasyid untuk menjaga keutuhan wilayah yang dikuasainya.

Berbagai pemberontakan pun tercatat sempat terjadi di era kepemimpinannya. Pemberontakan yang sempat terjadi di masa kekuasaannya antara lain; pemberontakan Khawarij yang dipimpin Walid bin Tahrif (794 M); pemberontakan Musa Al-Kazim (799 M); serta pemberontakan Yahya bin Abdullah bin Abi Taglib (792 M). Salah satu puncak pencapaian yang membuat namanya melegenda adalah perhatiannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Di masa kepemimpinannya terjadi penerjemahan karya-karya dari berbagai bahasa.

Inilah yang menjadi awal kemajuan yang dicapai Islam. Menggenggam dunia dengan ilmu pengetahuan dan perabadan. Pada era itu pula berkembang beragam disiplin ilmu pengetahuan dan peradaban yang ditandai dengan berdirinya Baitul Hikmah - perpustakaan raksasa sekaligus pusat kajian ilmu pengetahuan dan peradaban terbesar pada masanya. Harun pun menaruh perhatian yang besar terhadap pengembangan ilmu keagamaan. Sang khalifah tutup usia pada 24 Maret 809 M pada usia yang terbilang muda 46 tahun. Meski begitu pamor dan popularitasnya masih tetap melegenda hingga kini. Namanya juga diabadikan sebagai salah satu tokoh dalam kitab 1001 malam yang amat populer. Pemimpin yang baik akan tetap dikenang sepanjang masa.

Pemimpin yang Prorakyat

Di era modern ini begitu sulit menemukan pemimpin yang benar-benar mencintai dan berpihak kepada rakyatnya. Sosok pemimpin yang mencintai rakyat pastilah akan dicintai dan dikagumi rakyatnya. Salah seorang pemimpin Muslim yang terbilang langka itu hadir di abad ke-8 M. Pemimpin yang pro rakyat itu bernama Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Sang khalifah benar-benar memperhatikan dan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Guna meningkatkan kesejahteraan rakyat dan negara, Harun Ar-Rasyid berupaya dengan keras memajukan perekonomian serta perdagangan. Pertanian juga berkembang dengan begitu pesat, lantaran khalifah begitu mena ruh perhatian yang besar dengan membangun saluran irigasi. Langkah pemerintahan Harun Ar-Rasyid yang serius ingin menyejahterakan rakyatnya itu mendapat dukungan rakyatnya. Kemajuan dalam sektor perekonomian, perdagangan dan pertanian itu membuat Baghdad menjadi pusat perdagangan terbesar dan teramai di dunia saat itu.

Dengan kepastian hukum serta keamanan yang terjamin, berbondong-bondong para saudagar dari berbagai penjuru dunia bertransaksi melakukan pertukaan barang dan uang di Baghdad. Negara pun memperoleh pemasukan yang begitu besar dari perekonomian dan perdagangan itu serta tentunya dari pungutan pajak. Pemasukan kas negara yang begitu besar itu tak dikorup sang khalifah. Harun Ar-Rasyid menggunakan dana itu untuk pembangunan dan menyejahterakan rakyatnya. Kota Baghdad pun dibangun dengan indah dan megah. Gedunggedung tinggi berdiri, sarana peribadatan tersebar, sarana pendidikan pun menjamur, dan fasilitas kesehatan gratis pun diberikan dengan pelayanan yang prima.

Sarana umum lainnya seperti kamar mandi umum, taman, jalan serta pasar juga dibangun dengan kualitas yang sangat baik. Khalifah pun membiayai pengembangan ilmu pengetahuan di bidang penerjemahan dan serta penelitian. Negara menempatkan para ulama dan ilmuwan di posisi yang tinggi dan mulia. Mereka dihargai dengan memperoleh gaji yang sangat ting gi. Setiap tulisan dan penemuan yang dihasilkan ulama dan ilmuwan dibayar mahal oleh negara.

Sangat pantas bila keluarga khalifah dan pejabat negara lainnya hidup dalam segala kemewahan pada zamannya. Sebab, kehidupan rakyatnya juga berada dalam kemakmuran dan kesejahteraan. Tak seperti pemimpin kebanyakan yang hidup dengan kemewahan di atas penderitaan rakyatnya. Sampai kapan pun, sosok Harun Ar-Rasyid layak ditiru dan dijadikan panutan para pemim - pin dan calon pemimpin yang ingin mencitai dan berpihak pada rakyatnya.

Jejak Hidup Sang Khalifah Agung Tahun 763 M : Pada 17 Maret, Harun terlahir di Rayy.
Tahun 780 M : Memimpin pasukan militer melawan Bizantium.
Tahun 782 M: Kembali memimpin pa - suk an melawan Bizantium hingga ke Bos porus.
Tahun 786 M: 14 September saudaranya Al-Hadi - khalifah keempat meninggal dunia.
Tahun 791 M: Harun kembali berperang melawan Bizantium.
Tahun 795 M: Harun meredam pembenrontakan Syiah dan memenjarakan
Musa Al-Kazim. Tahun 796 M: Harun memindahkan istana dan pusat pemerintahan dari Baghdad ke Ar-Raqqah.
Tahun 800 M: Harun mengangkat Ibrahim ibnu Al-Aghlab sebagai gubernur Tunisia.
Tahun 802 M: Harun menghadiahkan dua gajah albino ke Charlemagne sebagai hadiah diplomatik.
Tahun 803 M: Yahya bin Khalid (perdana menteri yang dipecat karena korupsi meninggal dunia.
Tahun 807 M: Kekuatan Harun mengusai Siprus.
Tahun 809 M: Harun meninggal dunia ketika melakukan perjalanan di bagian timur wilayah kekuasaannya. (rpb)

source: www.suaramedia.com

Friday, December 18, 2009

1 Muharram

Alhamdulillah atas nikmat usia yang dipinjamkanNya sehingga kita melangkah 1431H.

Selayak dengan hari tahun baru ini, cuaca di bumi BSP ini pun redup, tenang, angin sepoi-sepoi bahasa, sejuk dan menyeronokkan.

Saya? Saya tidak menyertai perhimpunan Tahun Baru di Putrajaya tetapi saya hanya bersiaran langsung di depan kaca televisyen di rumah sambil minum kopi Radix cicah dengan biskut empat segi Hwa Tai Luxury.

Sambil mendengar titah ucapan Sultan Kedah, sambil tangan ligat menanda kertas ujian anak-anak untuk dua subjek. Macam-macam anak-anak saya menjawab, maklumlah subjek saya ini lebih kepada menyaksikan kehebatan anak-anak saya goreng-mengoreng. Kadang-kadang ada yang digoreng sedap, dan ada juga yang habis hangus... aduhai anak-anakku...

Sehingga lewat Zuhur barulah saya usai menanda semuanya. Alhamdulillah.

Tiada apa yang menarik, mungkin esok hari lebih menarik, mungkin :) Insya Allah. Seandai benar tarikhnya esok saya dan sahabat saya mahu ke SA untuk mendengar ucapan nasihat daripada al-alamah tokoh Maal Hijrah ke-2 yang terpilih untuk 1431H ini, Prof. Yusuf el-Qaradawi. Insya Allah bi iznillah.

Maka Ahadnya pula terusan saya langsung ke majlis Resepsi ex-cert Azib di Taman Melawati. Semoga apa yang dirancang esok dipermudahkan Allah serta diberikan petunjuk yang baik selalu dan selamanya. Golongkanlah kami dalam orang yang Engkau kasihi Ya Allah...

Dua ucapan:

SELAMAT TAHUN BARU 1431H

SELAMAT PENGANTIN BARU KEPADA AZIB & FARA


1910
Nat Geo ~ Azan Maghrib

Tuesday, December 15, 2009

Hujan

Lebat.

Saya tengah menyaksikan keindahan kelebatan hujan turun.

Bunyi hujan sangat mengasyikan. Pastinya diselang-seli dengan bunyi guruh.

Sambil berfikir... sambil merenung... sambil menafsir...

Sememangnya dari pagi hari tadi cuaca sangat cerah dan cemerlang..

Teringat dengan pepatah, sediakan payung sebelum hujan...(sebab saya tak sediakan payung untuk balik) maka terpaksalah menanti dengan penuh sabar di sini.

Satu lagi, ku harap panas hingga ke petang, rupanya hujan ditengah hari. Kita merancang tetapi Dia lah penentu yang terbaik atas perancangan kita.

Kita fikir inilah cadangan yang terbaik buat kita tetapi apa-apa sahaja boleh berlaku dengan ketentuanNya...

Kita rasakan inilah yang terbaik untuk kita tetapi ada yang lebih baik yang Dia tentukan untuk kita. Orang dulu-dulu memberi pepatah mengikut resam dunia...

Begitulah kita...

(-_-)
menanti hujan seryat...

Thursday, November 26, 2009

Meja Kampung


Asal perancangan saya bertolak malam semalam (Rabu) tetapi dek kehabisan tiket bas menuju ke utara, saya terpaksa membelasah apa-apa tiket yang ada di Hentian K. Syukurnya hanya ada satu seat untuk saya bagi Bas Etika untuk menuju ke utara. Alhamdulillah. Kemudian terus saya mengisi borang cuti untuk hari Rabu.

Perjalanan semalam sangat panjang, memang tidak dinafikan KL ke Kangar bukannya dekat melainkan naik kapal terbang 50 minit. Tapi kena landing kat Kedah sebab Perlis tiada lapangan terbang.Lapang sasar kapal terbang kertas ada la kat Sungai Batu Pahat. Dulu masa mula-mula saya menetap di Santan sekitar 1992, ada ura-ura mengatakan Santan akan dijadikan lapangan terbang. Mak oiii...habis orang Santan kena pindah. Mana kami semua nak pi... Mujur hanya ura-ura. Sehingga sekarang tiada lagi. Kembali kepada kisah naik bas, saya bertolak pukul 11.30 pagi, tapi keluar dari KL pukul 1.30 petang. Banyak destinasi rupanya Bas Etika ni. Kemudian pabila dah masuk Lebuhraya Utara Selatan, bawak laju semacam (saya rasa mungkin enjin bas dan ekzos bas yang bunyi kuat). Non-stop. Saya tertanya-tanya bila mau berhenti R&R. Langsung terus.

Akhirnya berhenti di R&R Taiping. Baru buka 6 hari. Kami berhenti seketika. Saya tak pasti berapa lama masa diberikan, tapi pemandu bas seolah-olah tidak berganjak dari tempat duduknya. Jam sudah 4.30, berkira-kira jamak ta'akhir. Saya rasa mesti bas takkan berhenti lagi, terus bergergas ke surau perempuan. Saya seorang. Hati gusar kalau kena tinggal. Taiping ke Kangar jauh lagi. Percepatkan ambil wuduk. Tapi hati terbayang-bayang kena tahan lori ayam lepas ni kalau kena tinggal bas. huhuhu...Kemudian sejadah dibentang, takbir diangkat serta bertawakkal sahaja.

Usai solat saya melulu lipat sejadah, buat apa yang patut pakai kasut keluar dari surau. Masa keluar serentak di surau lelaki ada penumpang lelaki menaiki bas yang sama. Fuh....alhamdulillah. Nasib lagi. Saya lihat penumpang masih berbaki di bawah. Saya sempat membeli buah untuk mengalas perut. Kemudian naik semula bas tersebut. Jangkaan saya tepat. Tiada lagi tempat yang diberhenti terus lajak ke susur ke Sungai Petani, menurunkan penumpang dan terus dan terus ke AS. Fikir saya pasti tiba di Kangar sudah Isya'.

Akhirnya 8.30 malam baru sampai nunnn stesen jauh di utara Malaysia. Sembilan jam. Lenguh pinggang cek. Setiba di rumah mak sudah menanti dengan senyuman. Saya lakukan apa yang patut terus bersiap siaga untuk bersantap. Inilah saat-saat yang terbayang dari dalam bas... sedap! suap bersuap.. Alhamdulillah. Dalam pukul 11 malam adik saya yang berkursus di Sg. Petani pulang bersama Laksa Teluk Kechai. Aduii... Kecur ayaq liuq. Terus semangkuk jadi santapan.

Dan hari ini alhamdulillah, ayah mak, adik dan saya bersama-sama berpuasa sunat wukuf di Arafah. Ya Allah.... ku syukuri nikmatMu... nikmat tinggal di Santan...

Kepada semua sahabat-handai saya, Selamat Hari Raya Eid Adha ya.

Semoga kita sentiasa memperingati kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s serta pengorbanan wanita-wanita hebat Siti Hajar dan Sarah. Labaikallahuma labaiik..! Hati bergurindam kerna rindu terkenang Tanah Suci..

"EID MUBARAK"

0808
1423
meja kampung, Santan

Friday, November 13, 2009

antara lega antara tidak



Ada 3 perkara;

1) Langsai menyediakan kertas peperiksaan untuk di"tabled"kan dalam mesyuarat jabatan.

2) Memikirkan Method yang sesuai untuk anak-anak DMiI. Mari Belajar.

3) Pulang beraya ke Santan sempena Eid-al-adha.


deng-dang pagi jumaat

Tuesday, November 10, 2009

Senget

Minggu ini adalah sangat indah jalan-jalan persekolahan saya. Tiada traffic jam, tiada kena berque panjang, tiada kena menunggu, tiada dad a da daa…Memang tidak dinafikan minggu lepas saya berkampung di KL dari Isnin sampai ke Rabu kemudian kembali ke sekolah pada hari Khamis. Kemudian bercuti pada hari Jumaat. Lantas pastinya minggu ini sangat padat dengan aktiviti pengajaran dan penyediaan kertas peperiksaan (ops..tak siap lagi bos….)

Dalam kepadatan dan kekalutan waktu untuk menyediakan P&P, saya merasakan kewajipan-kewajipan itu telah melebihi waktu yang ada. Hari ni bermula dengan pukul 8 pagi, terpaksa berkalut ke PTM untuk sesi peminjaman LCD. Kembali ke kelas, LCD dan laptop sudah ada namun extension pula tiada. Gergas saya mencari extension. 10 pagi, kelas pun tamat. Sepanjang koridor dari tingkat dua saya di sapa oleh para pelajar. Teguran biasa. Berbasa basi, sehingga ke tangga, salam disapa jawab diberi, senyuman dihulur dan dibalas. Tidak kurang semua yang bertembung pasti menegur.

“Apa ramai benar yang menegurku hari ini..”, hati saya berdesis perlahan. Senyum dan bahagia.

Tiba dibilik, laptop ditangan diletakkan perlahan di atas meja saya. Meluru ke cermin kecil yang sememangnya tersangkut di dinding playwood bilik saya.

“Oo… patuitla…”, ujar saya perlahan. Sambil tergelak kecil.

“Tudung cek senget..dok gawang-gawang tangan masa mengajar la ni.. macam mana la budak-budak tadi dalam kelas urm…kalau aku pasti nak tergelak” ngomel saya seorang diri sebelum pintu diketuk orang.

“Ops..ada orang mai…”

“Yes!!! Come in!”, kena tempik kuat-kuat sebab orang kat luar tak dengar…

2049
key chain ITS

Saturday, November 7, 2009

ponder and wonder

Today is Saturday. By having enough rest yesterday, I hope today I will manage myself to finish my school work. Insya Allah. Actually, this week I hadd attended a conference on 6th Kuala Lumpur Islamic Finance Forum held at Nikko Hotel. And this conference is my fourth time with all prominent figures in Islamic Finance field as well as Shariah scholars. I'll share later some issues and information that had been grab during my precious time there. But what I wanna share here is that our education system in our country. I had received an email a guy (name is undisclosed) that was draw my attentions very much. And I hope by pasting his opinions on our education system, it will help us to ponder about it.

Another article by Dr. Hsu

I was told that one of the girls with the most number of A's, 17 A1's, in SPM and who is currently on a scholarship in UK to study medicine failed in her second year examination.

While passing and failing examination is part and parcel of a student's life, this case is particularly alarming, as this is supposed to be our cream of the cream. There may be other reasons why she failed , but this case typifies the trend of many of our so-called 'top scholars' failing in overseas universities.

I have mentioned before that among my daughter 's year doing medicine in University of Auckland, there were many JPA's scholars (more than 10). Only one graduated with the class. The rest have failed along the way and have to repeat the year which they have failed. Some have failed one year, passed on second attempt and then failed again in another year. It is not uncommon to have someone who failed a few times along the way.

These scholars are supposed to represent the cream of our students, and yet they struggled to get through the course.

We must find out the reasons why so many of these scholars fail when they are supposed to be the our top students.

Granted that in an examination, even a good student can do badly sometimes, but to have a disproportional high failure rate among the so called top students is alarming and cannot be attributed to 'luck' or the lack of it. Compare this with those on their fathers' scholarship, very few of the latter group failed.

Is it because our marking system is at fault? Is there any differential markings of papers? Is our education system at fault?

I think the time has come to have a thorough re-examination of the whole education as well as the examination system.

It really reflects badly on our country when scholarship holders fail in their examinations at an alarming rate.

P.S. When a scholarship holder fails and has to repeat a year, it would cost the Country a lot of money which can actually be used to finance more students for study. Scholarship holders also live a life of relative luxury, compared to self-financed students, and they normally stay in the best hostels and many of them have cars and so on… SO the whole system of awarding scholarship should be reviewed too…

If the students scores an exemplary number of distinctions (A's in Malaysia) in a public exam, they are considered the pinnacle of what the Country's education system is capable of producing. They are expected to go through tertiary education anywhere in the world with flushing success. So what could possibly have happened if they fail abroad?

Malaysia's education system has always been a laughing stock. Based purely on numeric superiority and mindless rote learning methods that even the British has long abandoned decades earlier, Malaysia continues to believe that the more A's the students attain, the better equipped they are. It doesn't matter how they get the A's so long as the aim is to get them and get as many in the process. So if the students were to labour over numerous past year exam papers in the library, memorise the answers and focus only on what the teacher 'suggests' are likely to come out for the exam, that's all right by everyone. The education system doesn't teach the students to UNDERSTAND the material. It doesn't encourage proactive teaching methods that encourage students to discover knowledge but to merely be taught.

When a student with 17 Distinctions fail in the real world, it is not a surprise. Perhaps it is to many Malaysians, but it's a system that is waiting to reward its students with spectacular failure when they leave the shores and compete overseas or when they enter the workforce. Many organisations in the private sector have continued to be horrified at the performance of such students during interviews. Communication skills are absent. Standard ethics are absent. Common courtesy codes are absent. Presentation skills as well as personal grooming are absent. What has the education system taught them?

If Malaysia continue to embark on the road of plain numeric superiority instead of to challenge the students to think, provoke them to create their own opinions and to communicate expressively, to eloquently define their standing in the world, there can never be an international leader in any field or industry emanating from Malaysia. It never produced one in the last 20 years. It never will for the next 100 years.

to ponder & wonder
1358
maple table's cloth

Friday, October 30, 2009

Mereka datang



Di sebelah petang semalam….

Tuk! Tuk!

“Come in…”, saya menyahut.

Tuk! Tuk! Tuk!

“Come innn!!!”, lantang saya menjerit. “Agaknya suaraku lembut sangat kot tadi tu”, detik saya dalam hati. Tetapi gusar andai jiran sebelah menyebelah terganggu dek kelantangan suara saya.

“Puan, boleh saya jumpa?”, katanya. Seorang pelajar tidak langsung yang tidak pernah-pernah jemu menjenguk saya.

“Oh, sure..have a seat”, saya menjawab.

Dia memang bukan anak didik saya secara langsung di dalam bilik kuliah mahupun tutorial. Tetapi dia adalah anak didik saya yang tidak langsung yang sangat meminati bidang kewangan. Saya masih ingat di awal semester saya menanggung amanah di sekolah ini, dia diperkenalkan oleh kawan sekerja saya. Katanya dia mahu tahu hala tujunya selepas diploma nanti. Pertemuan yang secara tidak langsung membuatkan dia akan datang menziarahi saya sekali sekala. Kerna saya tahu dia juga ada keterbatasan waktu untuk menimba ilmu. Begitu juga saya dengan kesibukan dalam perkongsian ilmu.

Berdasarkan pertemuan-pertemuan sebelum ini, dia pasti mengheret isu-isu yang kurang difahami seperti perbankan sehinggalah dinar emas. Saya sangat bersyukur kerna sedikit sebanyak saya membantunya dan dia juga membantu saya. Alhamdulillah. Saya juga yakin bahawa dia mampu melakukan yang terbaik.

“Ha…how’s your result?”, saya memulakan bicara.

“Alhamdulillah, sem ni DL. GPA 3.91”, dia menjawab.

“Alhamdulillah! Bagus!”, kata saya dengan gembira.

“CGPA?”, Tanya saya lagi.

“3.69”, dia membalas.

“Tapi kalau boleh saya nak dapatkan lebih daripada 3.7”, tambahnya lagi.

“Ok…make sure semester ni pulun bagi habis!”, terasa saya yang bersemangat.

“Puan, hari tu saya ada jumpa Ustaz N. Dia kata nak masuk UM susah puan…”, dia merungkai apa yang terbuku di hati. Lalu dia tunduk ke bawah.

“Kenapa dia cakap macam tu?”, saya tanya kembali.

“Memang susah…. UM susah nak masuk…ustaz cakap..”, ulangnya lagi. Terdengar keluhannya itu.

Saya akui katanya ada benar. Memang susah pun. Tanpa latarbelakang yang kukuh dalam Syariah dan Bahasa Arab peluangnya agak tipis. Namun dia juga sedikit pengetahuan Bahasa Arab. Tetapi mungkin kurang kukuh jika tidak dipersijilkan. Tapi bagi saya tiada apa yang mustahil selagi belum mencuba.

“Macam ni, kamu tak boleh stick dengan satu pilihan. Kamu perlu ada alternatif. Sekiranya tak dapat UM, kamu masih ada banyak peluang untuk IPTA yang setara dengannya malah lebih komprehensif lagi”, saya pula mula menjernihkan suasana.

“Alternatif ada dan cita-cita dan hasrat juga tercapai”, kata saya lagi.

“Apa pilihan kamu seandainya tak dapat UM?,” saya mula menyoal dan mengumpan minat.

“Saya ada tengok juga Puan….. kalau tak pun USIM, atau pun UUM sebab keduanya ada menawarkan perbankan dan kewangan”, dia menjawab.

“Kenapa UUM?’, saya mula memancing.

“Saya ada tengok subjek-subjek yang berkaitan saya rasa macam ok. Apa pendapat Puan?, dia kembali melontar soalan kepada saya.

“Berdasarkan minat kamu, keinginan dan cita-cita kamu…..”, saya menarik nafas untuk menyambung pendapat.

“I would suggest you to further IIUM”, sambung saya lagi.

“UIA Puan?”, dia menyoal saya kembali sambil tersenyum. Seolah-olah ada sesuatu yang membuatkan hati beratnya menjadi keringanan.

“Ya.”, jawab saya dengan pendek.

TRITT….TRITTT…

Telefon pejabat saya berbunyi. Sesudah berurusan di talian saya paling semula kepadanya yang sedia menanti ayat-ayat saya yang seterusnya.

“Banyak sudut yang akan kamu belajar sekiranya kamu sambung di sana. Bahkan saya syorkan kamu agar buat ‘double degree’. Dua-dua kamu dapat. Bahasa Arab, Ekonomi, Finance dan Usul fiqh. Jimat masa, kamu dapat dua ijazah. Kemudian kamu sambung MA dalam bidang Usul Fiqh. Buat kat mana-mana di timur tengah. Polish Arabic kamu. Kemudian, balik Malaysia kalau nak sambung Doctorate sini pun tak pa kat luar pun tak pa.”, saya memanjangkan hujah.

Dia mengangguk-angguk apa yang saya katakan.

“Bahkan di sana kamu tak perlu risau sangat dengan biah sebab ianya lebih kurang dengan di sini. Dan pastinya kamu boleh mendekati ustaz-ustaz dan syeikh untuk dengar dan belajar kitab. Selalunya ada selepas Asar dan Maghrib”, kata saya lagi.

“Nak mantapkan bahasa, kamu bergaul la dengan pelajar-pelajar luar. Macam Afghanistan ke, Iraq ke, Iran ke, Sudan lagi bagus lah. Secara tidak langsung itu sudah memberikan persediaan kepada kamu nanti untuk ke luar Negara nanti”, saya menyambung lagi.

“Um.. um…betul kata Puan, kalau boleh saya pun memang nakkan biah yang macam di sini. Sebab tu la tadi saya utarakan perkara ni. Saya nak pastikan mana satukah pilihan yang sesuai untuk saya apabila habis belajar nanti. Thanks Puan”, dia membalas.

“Bagus, kamu dah nampak sekarang, minat nak buat MA di mana?”, saya menambah.

“Insya Allah saya nak sambung di Yarmouk University”, dia menjawab dengan yakin.

“Oh that’s great! Saya setuju benar. Bagaimana dengan ibu bapa kamu?”, saya menyoal kembali.

“Alhamdulillah, mereka menyokong saya. Kadang-kadang ayah saya pun kurang faham dengan kemahuan saya tapi dia tetap memberikan peransang kerana dia tahu minat saya, dia menjawab.

“Oo.. alhamdulillah, bagus-bagus. Saya juga akan sokong dan doakan kamu selalu. Ingat ya, bila kita niat ikhlas lillahi taala, pasti akan jalan-jalan kemudahan itu terbuka luas, tambah lagi kamu memang benar mahu berjihad fisabillah”, saya menambah.

“Emm.. Puan. Terima kasih Puan. Kalau ada apa-apa lagi saya datang lagi ye Puan atau saya nak email Puan”, katanya di penghujung perbualan kami.

“Boleh… you have my email and number right?”, soal saya.

“Yes, Puan”, dia menjawab pantas.

“So….if there’s any queries ke…. Please don’t hesitate to contact or mail me okey?”, kata saya.

“Insya Allah, I will”, katanya lagi.

“Emm…Terima kasih banyak-banyak Puan. Oh ye Puan, kalau boleh saya nak attend any course yang reasonable price dalam Faraid. Do you have any idea on that particular course Puan? Kawan saya Singaporean ada sertai kira-kira 120$S. Kalau boleh saya nak di Malaysia dan berpatutan”, dia bertanya lagi.

“Ok I will check for you later yea. I think we have, and Insya Allah I’ll try to get special price for you k”, saya terfikir-fikir siapa ya….

“Ok Puan, I need to go now”, dia berpermisi.

“Baik, baik and good luck for this sem yea”, kata saya penyudah ayat.

“Insya Allah Puan”, tersenyum sambil menolak kerusi yang dijadikan stopper untuk pintu semasa perbualan kami tadi.

Pintu tertutup rapat kembali. Kerja-kerja kebajikan disambung semula.

****************************************************************

Lagi petang yang damai…

Tuk! Tuk!

“Come inn!” lantang saya lontarkan suara.

“May I come in Puan?”, dia menjenguk. Pelajar saya berusia dalam lingkungan lewat 20-an. Berasal dari Nigeria. Ebd-ul Hameed.

“Yes, sure”, saya tersenyum. Dalam hati tertanya-tanya apakah gerangannya kali ini membawa satu pertanda. Saya tahu dia gagal subjek Ekonomi semester lepas.

“Ebd-ul Hamid, can you put this chair as stopper at my door please”, saya mengalu-alukan kedatangannya.

“Yes, Puan’, dia bertindak seperti apa yang diminta saya.

“Ok, have a seat…”, saya menyelesakan kedudukan.

“Thank you Puan”, jawabnya.

“How’s your Hari Raya Puan?, dia memulakan bicara.

“Oh great! Alhamdulillah… I celebrated my eid-mubarak at my hometown with my family, near and dear…”, saya menjawab dengan nada gumbira. Pastilah gumbira kerna satu Syawal lalu adalah sambutan kelahiran saya. Ditambah dengan hari kemenangan umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan.

“Alhamdulillah… Puan… I come and see you now because I wanna ask you about my paper last semester. I know, I failed for this subject. But, I think I supposed to pass. At that time, I’m a bit stress because this paper was last paper before I departing to Cairo which was the last ticket to go back Nigeria”, dia memulakan bicara.

Saya memandangnya dan mendengar butiran kata-katanya.

“Puan, I feel confident that I will get at least B or C for this subject. I just came back last two days and found out my results. It was so bad. I’m so sad. Is there any chance for me to get pass for this subject? You know Puan, if I failed for only one subject, it affected to my study period as well. So, I have to stay longer here. I wanna go back to Nigeria and work there”, dia menyambung.

Saya mengangguk dan mendengar.

“Puan, what should I do now? Can you re-check my paper?”, dia menyoal saya.

“Ebd-ul Hameed, I know you are a good student in my class, if you absent immediately you come and see me, explained the reason why you can’t come to my class. And you also always respect me as your teacher. I know you are good personally.

Kali ini gilirannya mengangguk.

“But you yourself knew what did you answer in your answer script last paper right?”, saya menyoalnya kembali.

“Yea…. I remember Puan….”, dia menjawab lemah.

“So… you got the answer here. You submitted me only one and half pages right?, saya menduganya.

“Yes…Puan….” Sekali lagi dia mengakui.

“Then…. Should I re-check your paper Ebd-ul Hameed?, saya menyoalnya lagi.

“No Puan….”, dia menjawab lemah sambil meraup wajahnya dan melepaskan keluhan kecil.

“What should I do Puan?”, dia bertanya saya.

“Ok, definitely the best solution you have to repeat this subject”, saya mula memberi semangat.

“Is this subject offer for this semester Puan?”, dia bertanya.

“Yes Ebd-ul Hameed”, saya menjawab.
“I bring my structure course Puan, now I failed Economics and I can’t take Managerial Economics. So now I have to repeat this subject.

Saya mengangguk-angguk sambil melihat struktur kursusnya.

“Puan, do you teach Economics this semester?”, dia menyoal.

“Oh for this semester I am not, other lecturer will teach you okey”, saya menjawab.

“If that I will not repeat this semester”, dia berkata.

“Ebd-ul Hameed…if you behave like this you will extend your time and your money. Subject is offered. Don’t waste your time”, saya memperjelaskan keadaan.

“I’m afraid if they don’t understand me and treat me as you”, dia mula ragu-ragu.

“Masya Allah, you are not supposed to say that. Every one of us has different character. Different treat and touch ok. I would suggest you, go and see them. As you visit me here. Talk to them, share with them. Of course they will understand you”, saya mencadangkan.

“Hm… Insya Allah I will…” dia mengaku.

“Ok now, try to meet them ok? How’s your Eid-Mubarak?”, saya cuba mengalih topic agar hilang kegusaran di hatinya.

“Alhamdulillah, everything is fine. Puan, actually this time of Hari Raya I celebrated with my wife”, dia berkata dengan senyum-senyum kambing.

“Oh! Really??! Meant you’re married Ebd-ul Hameed?”, saya sedikit gumbira.

“Yes Puan!”, dengan senyum seronok.

“Mabruk!!!!!” saya mengucap tahniah kepadanya.

“Thank you Puan”, dia menjawab dengan wajah ceria.

“Ok, where’s your wife? Why didn’t you bring her here and introduce to me?”, saya tertanya-tanya.

“Insya Allah, I’ll bring her. Insya Allah. She will study here Insya Allah”, dia berkata.

“Ic… That’s good uh. Send my regard to her ok?”, saya berkata lagi.

“Insya Allah Puan, Thank you for your advice Puan”, dia mengakhir pertemuan petang semalam.

“You’re most welcome”

Alhamdulillah… Segala puji buat Dia Pencipta alam… Tersenyum saya melihat gelagat mereka. Macam-macam ada…..

Note: Puan is just only “salutation” between my students and I. Most of the time Miss. Huhu..


COLOP Printer 40,
R 2302

Monday, October 26, 2009

Balasungkawa Dr. Zainudin Jaffar (1961-2009)

Al-Fatihah kepada roh Allahyarham Dr Zainudin Jaffar di atas berpulangnya beliau ke rahmatullah pada petang 25 Oktober, 2009.

Saya hanya mengenali Allahyarham semasa International Conference on Islamic Economic 2009 di hujung Mei tahun ini. Terasa kehilangan orang kuat dalam pembangunan Ekonomi dan Perbankan Islam. Moga Allahyarham diletakkanNya dalam golongan beriman dan soleh. Ameen.

Softening Brush

 Bismillah. The hectic week has just begun, and I need to slot in my packed time, even 5 minutes, to sharpen my art skill of sketching up an...